Senin, 10 September 2012

Perjuanganku Masuk UNIVERSITAS INDONESIA


TIME WILL ANSWER THE DESTINY

Hai…salam kenal aku Ade Maretha Dwianto biasa dipanggil Wiant. sekarang aku sudah menginjak umur 18thn dimana aku terlahir dari kedua orang tua yang bernama Agus Irianto yang berasal daribali selaku ayah dan Ibuku bernama Dwi Pristiwaningsih asal jawatimur disebuah gubuk kecil kampung pinggiran ditengah hamparan hutan rindang, desa lengkong itu namanya. aku anak kedua dari dua bersaudara ,dimana kakakku seorang laki-laki yang bernama Yayan pristianto dan senggang umur 6 tahun lamanya dengan aku dilahirkan. sekarang aku duduk di bangku perkuliahan di Universitas kebanggaan Indonesia (UNIVERSITAS INDONESIA) meski aku berawal dari sekolah yang selalu dibilang terpinggirkan dan memang pinggiran pula. Dimana sewaktu TK aku memulai menuntut ilmu di TK Al-hidayah mangli (kampungku) namun aku hanya mengenyam sekolah taman kanak-kanak 1 tahun lamanya yang normalnya 2 tahun alasan aku dikeluarkan dari Tk karena aku sudah layak dan sudah pintar menguasai dasar anak TK dan SD jadi diharuskan untuk langsung melanjutkan ke jenjang sekolah dasar. setelah itu aku melanjutkan mengenyam sekolah di SDN mangli 5 jember (sekarang beralih nama menjadi SDN mangli 4 jember) yang mana setiap hari aku berjalan menuju sekolah selama 6 tahun lamanya dengan jarak yang relatif jauh. naik kelevel selanjutnya aku melanjutkan ke sekolah Menengah pertama yang bernama SMPN 2 Jengggawah (salah satu kecamatan di jember) yang harus aku tempuh 8KM tiap hari dengan menggayuh sepeda pulang pergi kerumah. setelah tamat SMP aku melanjutkan ke jenjang menengah ATAS dimana aku menuntut ilmu di SMAN ARJASA (salah satu kecamatan di jember) dan jarak dari rumah kesekolah sekitar 18KM dengan mengendarai angkutan umum setiap hari. itu merupakan gambaran perkenalan singkatku namun ceritaku masih terus berkarya untuk diukir, yang berawal dariii……
  Hari demi hariku lalui dengan seuntai nada hati dan terperasnya semangat yang akan terbit layaknya sang fajar membelah kegelapan pagi. tanpa terasa sudah  genap perjalanku selama 5 tahun dimana kedua orangtuaku memutuskan tali kekeluargaan. Sekarang  hanyalah tinggal segenggam harapan meraih masa depan. kadang hati terbesit merasakan iri dihati memandang teman-teman sebaya disekitar ku masih dapat merasakan hangatnya rasa kasih sayang kedua orang tua mereka namun pelan-pelan hati mulai sadar dan pikiran mulai terbuka. Ketika aku berfikir dan terbayang kerasnya kenyatan hidup ini dari situlah aku mulai terbangun dan semangat menjalani hidup sebagaimana mestinya.
       Suara ayam berkokok tanda waktu menunjukan bahwa waktu sudah cukup pagi. Rutinitas pagi kujalani untuk memulai dan meritis masa depan dengan cara mengorek ilmu disekolah yang boleh dibilang terletetak di pinggiran dan tepat dibawah kaki pegunungan di perbatasan sebelah utara kabupaten jember jawa timur. waktu mulai menunjukanku untuk berangkat sekolah dan tak lupa berpamitan kepada ibu yang juga akan berangkat mengais rupiah meski hanya sebagai pembantu rumah tangga belaka. namun aku bangga memiliki beliau, sosok wanita yng sangat berharga di balik ini semua. Perjalanan menyusuri ramainya kehidupan pagi dimana ditempuh dengan perjalanan kaki menempuh sekitar 1 km setiap hari demi mendapatkan “klenting kuning” itulah sebutan bagi angkutan umum dikota kecil kami. perjalanan ke sekolah menghabiskan waktu sekitar kurang lebih satu jam untuk menuju ke depan gerbang masa depanku demi menimba ilmu. Meski pernah merasakan telat dan mendapatkan hadiah berupa ganjaran disekolah sebelum aku memasuki ruang pembelajaran. Memang disisi lain aku harus melaksanakan tugas dan tanggung jawabku setiap hari sebagai pemimpin dimana harus memberikan contoh yang baik sekaligus menerapankan ilmu seorang ilmuan dengan system ajarannya yang disebut POAC (P=planning O=organizing A=actuacting C=controlling). disamping tanggung jawabku sebagai ketua kelas itu aku harus melaksanakan tugasku sebagai seorang pelajar.
Waktu pelajaran pun dimulai aku harus mulai untuk memfokuskan menyerap semua ilmu dari guruku. namun dilain sisi kadang aku harus berhenti sejenak karena harus melayani untuk menjual pulsa karena hanya pekerjaan sampingan itulah yang akan menjadi pemasukan untuk terus bersekolah dan memerdekakan hidupku. Memang sih hal kecil itu sering mendapatkan teguran dari guru-guru yang secara tidak langsung aku duduk di depan meja guru dan berhadapan langsung dengan beliau.
Kelas 12 merupakan kunci yang akan menjawab masa depanku karena masa itu merupakan ujung tombak untuk mengikuti dan menjalani agar tercapai semua rencanaku yang terbagi menjadi 3 yaitu tahap rencana jarak pendek, menengah, dan jauh kedepan. pada tahap kelas 3 itu pula aku harus focus untuk menjalani UN (Ujian Nasional) sebagai tahapan fase terakhir menyelesaikan masa depan di jenjang sekolah menengah atas. Ada kalanya kadang hati merasa iri melihat adek-adek kelas mengikuti berbagai lomba yang ada. Namun memang peraturan atau sistem berkata lain dimana ketika kita menginjak kelas tiga kita tak diijinkan mengikuti berbagai macam lomba tersebut sebagai partisipan agar tidak menggangu pelajaran yang akan di serap.
Aku memang tergolong anak yang suka menyendiri karena apa? Aku tak pernah bercerita jika aku terlahir dari keluarga Broken Home sejak duduk dijenjang SMP. Namun semua itu aku mempunyai alasan tertentu yang melatarbelakangi aku tak pernah cerita dan terbuka terhadap itu semua kepada orang lain karena memang aku hanya ingin dianggap sebagai anak yang mempunyai dan juga mendapatkan belaian rasa kasih sayang dari kedua orang tua. Aku tak ingin mengharapkan ejekan dan hinaan apabila aku terlalu terbuka karena aku terlahir dari kedua orang tua yang gagal membangun keluarga yang harmonis. Namun dilain sisi dimana aku bertemu dengan sesosok guru yang memang belum aku kenal secara dekat tapi entah kenapa hati tiba-tiba ingin meluapkan apa isi hati yang sebenarnya dan memang benar-benar terhitung sangat lama aku simpan, tak lama kemudian aku ceritakan kepada guru   tersebut diruangan beliau. Hasilnya sedikit demi sedikit hati merasa lega dan tak jarang guru yang mendengarkan pula terisak tangis haru, beliau menyesalkan kenapa baru ceritakanya dan tak dari dahulu saja pandangan beliau. Nah sejak itu guru tersebut terketuk meluangkan usahanya untuk membantuku dalam hal segi finansial dan support yang memang benar-benar aku belum dapatkan sebelumnya. Beliau secara perlahan-lahan menuntunku kemasa depan yang lebih baik, beliau memberi pencerahan dan arahan. mulai sejak itu pula aku lebih giat untuk menyukseskan strategi kedepannya bagaimana caranya untuk menyiapkan amunisi dalam hal menuntaskan berbagai macam perencanaan yang telah aku susun yaitu dalam tahap awal aku harus berhasil menjadi juara kelas dan sekolah (dimana di sekolahku ada 4 kelas reguler untuk program ips) dan aku sadar nilai dan pengetahuan itu sangat penting peranannya untuk menentukan dan berperan penting untuk dipertimbangkan untuk masuk berjuang di perguruan tinggi negeri.
Perjuanganku untuk masuk perguruan tinggi negeri tak berhenti begitu saja, semakin dekat dengan hari penentuan semakin banyak pula lembaga bimbingan belajar yang sudah menawarkan program-program intensif  belajar untuk mempersiapkan siswa untuk masuk perguruan tinggi negeri. memang kadang hati merasa ingin ikut bergabung mengikuti latihan intensif tersebut namun apadaya tangan tak sampai ibarat sekarang sudah lebih tinggi pasak dari pada tiang dimana pendapatan lebih kecil dari pada pengeluaran yang harus dikeluarkan tapi yang namanya perjuangan itu sangat banyak halangan perjuangan untuk menuju kesuksesan. Jalan satu-satunya adalah harus sering mengikuti berbagai macam tes yang diadakan oleh lembaga atau pekumpulan dalam hal ini paguyuban semacam tryout untuk menguji dan mengenal lebih dekat tipe-tipe soal yang akan dihadapi ketika hari ujian nasional maupun SNMPTN ujian tulis nanti. namun ada hal yang aku sesalkan dari penerapan sistem sekolah ku yang mana mempunyai kebijakan yang secara tidak langsung menghambat karena kenapa ketika itu ada sebuah event atau acara yang diadakan oleh paguyuban GAMABETA (sebutan untuk Keluarga Mahasiswa Jember di Jakarta) dimana mengadakan roadshow  ke sekolah-sekolah SMA dan sederajat dan kebetulan SMAku menjadi kunjungan selanjutnya untuk mengajak siswanya mengikuti TOBK yang pada saat tu diadakan di Sman 2 jember namun pihak sekolah malah tdak diperkenankanya roadshow tersebit digelar di Sma saya dengan alasan mereka hanyalah, sudah menjadi peraturan sekolah dimana apabila sudah menginjak dan duduk dibangku kelas 3 pada semester 6 atau akhir dilarang adanya pihak luar untuk mengganggu kegiatan belajar mengajar yang sedang berlangsung padahal kami waktu itu tak ada pelajaran dan kosong tidak ada guru yang mengajar pada saat itu padahal kami sebagai siswa yang akan melanjutkan kejenjang berikutnya sangat membutuhkan  banyak informasi dan menjadikan sebagai acuan untuk masuk Perguruan tinggi negeri. sampai-sampai mereka pulang dengan sangat menyesal. Untungnya  meski hal itu terjadi tak lama kemudian aku langsung mengejar dengan cara meminta CP yang kebetulan mengurus hal  tersebut. aku langsung mengajak teman–teman untuk ikut dalam acara bermanfaat itu agar mereka juga dapat mengukur kemampuan mereka dan mendapatkan ilmunya. alhamdullilah akhirnya mendapatkan respon baik dari teman memang meski sistem sekolahku yang terkesan menutup informasi dari pihak luar. Aku harus rajin untuk terus mencari informasi dari sekolah lain apabila ada even yang serupa diadakan kembali dijember. Tak jarang juga aku mencuri kesempatan dan peluang dengan memakai nama sekolah lain untuk dapat mengikuti TO tersebut.
Hal yang paling berkesan dan sangat berpengaruh adalah ketika aku berangkat ke stand TOBK gamabeta di depan salah satu cafĂ© di kota jember untuk mendaftar ulang dan mendapatkan ticket. Disana aku bertemu dengan kak gege dan kak pe’a ( mahasiswa Universitas Indonesia yang berasal dari jember) yang pada waktu itu mereka berkesempatan menjaga stand untuk mengurusi anak-anak yang ingin mendaftarkan diri mengikuti acara tersebut. Disanalah aku dibukakan fikiranku untuk masuk Universitas Indonesia dengan segala keterbatasanku serta  diimbangi dengan segala kelebihan yang ada di Universitas Indonesia dan motivasi memang benar-benar bisa meyainkanku untuk mempunyai tekat bulat masuk Universitas Indonesia. hal yang mereka jelaskan meliputi transportasi, tempat tinggal, sampai biaya hidup nantinya dan tak terasa ternyata kita sudah menghabiskan waktu sekitar 5 jam lebih membicarakan mengenai UI sampai keakar-akarnya.
Sejak itu aku nekat untuk masuk kekampus yang mempunyai kualitasnya setara dengan kampus berkelas dunia dan kebanggaan bangsa ini dengan doa, semangat dan bekal prestasiku ini aku dapat mengikuti jalur undangan bidikmisi yang sebelumnya tak menyangka aku bisa mengikuti jalur tersebut. namun aku tak pernah mempublikasikan apabila aku memilih UNIVERSITAS INDONESIA sebagai pilihan pertamaku namun sempat juga sih ada orang yang mengetahuiku apabila aku memilih UI seperti teman dan guru-guruku, seketika itu aku juga sempat mendengar dan sadar apabila mereka meragukan dengan cara mengunjing didepan maupun dibelakangku hal itu yang menyebabkan aku  menyimpan rapat-rapat tekatku apabila aku memilih UI dan jika ada pertanyaan dari pihak luar dan menanyakan ”kamu daftar undangan dimana?” aku akan selalu menjawab bahwa aku daftar di Unesa padahal universitas tersebut bukan pilihan pertama melainkan ada dipilihan kedua ku karena aku selalu ingat pesan dari kakak–kakak yang bertemu saat bedah kampus itu dimana mereka berpesan bahwa “adek kalo kamu sangat ingin dan memutusakan untuk masuk UI kamu harus siap dengan segala bentuk ejekan dan underestimate dari pihak di sekeliling kamu dan ingat kamu harus selalu mempertebal telinga kamu agar kamu tetap kuat untuk bertekat masuk UI dan itu pun tak hanya satu orang yang mengomentari sepeti itu namun banyak pihak. sampai-sampai aku tak pernah bilang ke bapakku apabila aku ingin masuk UI karena apa? memang beliau tak ingin melihat aku untuk  kuliah dan memang diwajibkan untuk bekerja setelah tamat jenjang SMA, aku tahu bapak sudah terkena dorongan dan doktrin oleh istri barunya sehingga beliau mempunyai pandangan seperti itu. untungnya aku masih dikelilingi oleh teman dan guruku yang bersedia meluangkan waktunya untuk menyokongku dalam keadaan yang kadang down. sejak itu aku bertekat untuk bisa masuk UI. aku juga sudah mempersiapkan apabila aku tak bisa masuk UI dalam persaiangan SNMPTN undangan nanti aku sudah siap untuk berjuang di SNMPTN tulis, apabila gagal SIMak UI siap dan apabila simak UI gagal STAN aku harus siap dan apabila gagal masuk kuliah aku siap untuk bekerja dan mencoba keberuntungan tahun mendatang.
Bapakku sudah tak tinggal serumah lagi dengan aku dan beliau juga sudah ibaratnya lepas tangan masalah  pembiayaan sejak aku duduk di bangku sekolah menengah atas. Kini aku bekerja keras di rumah gubuk yang kami kontrak dengan pekerjaan ibu yang hanya sebagai pembantu rumah tangga itu. memang sulit dan memang penuh dengan tantangan untuk menuju masa depan yang cerah. ibarat padatnya batu padas yang sulit untuk dijual dengan harga tinggi, dibutuhkan  keahlian, ketekunan dan ketelitian dengan rapi agar dapat diukir dan membutuhkan waktu yang sangat lama untuk menuju hal yang diinginkan. itulah memang pantas apabila disebut dengan kampus perjuangan.
Pengalaman bekerja dulu sudah pernah aku jamah dimasa setelah aku melaksanakan ujian nasional berakhir, dimana aku kerja di pervillaan dibali untuk menambah pengalaman itung-itung mengisi waktu dimasa menunggu pengumuman hasil dan menabung untuk uang saku perkuliahan nanti.
Tak terasa hari yang kami tunggu sebagai pelajar datang dimana pengumuman UN tiba. sebenarnya pengumuman diadakan dirumahku selaku ketua kelas maka diganti kerumah walikelasku namun berhubungaku tak ada dijember maka pengumuman dilakukan dirumah masing-masing dengan sistem tunggu dalam artian apabila dalam waktu sampai jam 15.00 sore tak ada utusan dari sekolah yang berkenan untuk mengunjungi kediaman kita maka dinyatakan LULUS, namun detik berganti menit dan begitu pula menit berganti jam, lama terasa menunggu jam 3 datang sampai-sampai badan menggigil kedinginan saking dekdekannya setelah jam 3 itu aku tunggu sontak tiba-tiba terdengar handphoneku berdering dimana walikelasku menelfon ada maksut tertentu dan ternyata kabar gembira yang membanggakan bahwa aku mendapat predikat LULUS, hebatnya lagi aku berhasil meraih hasil UN tertinggi tiga besar di kabupaten jember tingkat SMA sederajat waktu tu. tak selang beberapa lama rasa hati yang bangga kembali tergoyang karena perasaan was-was dan khawatir datang kembali dimana hasil pengumuman SNMPTN undangan resmi dimajukan hari ini pada pukul 16.00 sore. selang beberapa jam kemudian aku bingung bergegas mengecek nomer pendaftaran dan tanggal lahir untuk melihat akunku pada pengumuman ini. setelah beberapa lama aku mencari itu ternyata tak membuahkan hasil yang maksimal karena hal yang aku cari tersebut tak ada dan ternyata tertinggal dirumah kontrakan di jember. Alhasil aku bergegas untuk meminta bantuan untuk mencari dokumen itu dan segera aku menuju tempat pengiriman untuk mengirim kunci rumah, ternyata apabila hari ini aku kirim barang yang akan aku kirim ini akan sampai pada tempat tujuan 4 hari kedepan itu sudah pelayanan tercepat padahal hal ini bersifat urgent tapi aku membatalkan untuk melakukan hal itu aku memutar otak. Akhirnya untung ada sanak saudara yang secara kebetulan beliau akan pergi ke jember untuk melakukan pekerjaan malam ini juga nah aku langsung meminta bantuan untuk menitipkan kunci dan beliau bersedia dimintai bantuan. keesokan harinya kunci tersebut sampai dijember dan bergegas meminta bantuan teman untuk mengambil dan langsung membuka rumah untuk mengecek document yang aku butuhkan. setelah itu langsung mengirimkan data tersebut. setelah data tersebut berada ditangan maka aku langsung meminta teman dekatku yang sedang online untuk dimintai bantuan membuka akun SNMPTNku disanalah rasa was-was memuncak seketika. ketika aku membuka pesan dari handphone menunggu kabar aku selalu menarik nafas dalam-dalam untuk meredam rasa tak tenang dan berdoa untuk disiapkan mentalnya apabila hal yang tak diinginkan terjadi. beberapa menit kemudian allhamdulliah ucapan selamat datang dari temanku karena telah diterima di Universitas Indonesia. Rasa syukur langsung menuntutku untuk bersujud syukur dihadapan ALLAH swt. Suka cita silih berganti berdatangan terucap dari sanak keluarga, teman, keluarga, dan saudara terdekat.
Satu hal yang membuat aku miris setelah aku menyampaikan pada kedua orangtua ku yang melahirkanku beliau merespon berbeda dimana ibuku senang hanya beberapa saat kemudian beliau sedih karena tak ada lagi yang akan tinggal bersamanya lagi namun aku mendapat respon yang negatif datang dari bapakku dimana beliau sama sekali tak menghiraukan aku dan merasa bangga akan keberhasilanku masuk perguruan tinggi negeri unggulan ini.
Beberapa jam kemudian aku mendapatkan kabar untuk segera membuka akunku sendiri karena harus melihat tata cara daftar ulang dan ternyata aku harus mengirim berkas yang lumayan banyaknya lalu sejak itu aku memutuskan untuk segera menyiapkan barang untuk pulang ke jember keesokan harinya.
Sangat mengejutkan dimana tanggapan positive datang dari teman-teman menyambut hangat atas keberhasilan dengan rasa bangga padahal aku belum sama sekali menyampaikan kabar gembira tersebut. Ternyata mereka mengetahui itu dari pihak media elektronik dimana media massa surat kabar (jawa pos, besuki pos dan harian memo pada hari itu serta media digital mengabarkan di http://www.pastinews.com/?p=11517 dengan headlinenya "Capai Prestasi Gemilang, Siswa SMAN Arjasa Tembus UI") selain itu radio dan stasiun pertelivisian memasukan keberhasilanku sebagai bahan pemberitaanya. memang rasa bangga dan haru mewarnai hariku dapat mengharumkan nama sekolah dan ibuku yang hanya berpenghasilan sebagai pembantu rumah tangga dikampungku.
Lika-liku perjalanan ku tak berhanti sampai saat itu juga, banyak sekali rintangan dan tantangan yang harus aku lalui. Seperti berkas yang seharusnya sampai pada tujuannya dan pada hari itu juga mengalami kecelakaan atau kesalahan teknis sehingga berkasnya terkumpul 2 hari setelah penetapan hari terakhir pengumpulan dan untungnya pihak UI memakluminya.
Cobaan sekarang silih berganti datang dimana sekarang aku kekurangan dana untuk melakukan pendaftaran ulang ke UI. Tapi aku percaya tuhan tak pernah rela dan tertidur apabila ada hambanya sedang mendapatkan kesusahan. hal itu benar-benar mukzizatnya karena teman-teman seperjuangan ku yang keterima di UI melalui jalur undangan  (9 orang termasuk aku) membantuku dengan cara mereka patungan untuk mendapatkan biaya untuk ditukarkan tiket pulang pergi yang cukup besar biayanya agar aku dapat mendaftarkan diri bersama mereka berbarengan. Memang ini yang aku banggakan dimana sifat kekeluargaan mereka yang lekat dan sangat kuat keberadaanya.
Perjuanganku untuk mendapatkan beasiswa sangatlah membutuhkan perjuangan yang sulit apalagi aku tak tahu harus melakukan apalagi apabila aku gagal untuk mendapatkan beasiswa ini karena aku tak mampu untuk melanjutkan di UI dengan biaya merogoh sedalam dada. sampai-sampai realita diam akan menunggu jadwal interview dari jam 12 sampai jam 6 menunggu giliranku untuk melakukan interview, namun ternyata ditunda keesokan harinya yang mana aku harus kembali berangkat dari asrama UI jam 6 sampai akhirnya selesai pada jam 11 siang. Haduh memang sungguh penuh dengan perjuangan……
Alasan utamaku untuk masuk dan memperluas ilmuku di kampus kuning perjuangan ini adalah bagaimana caranya aku bisa mengangkat harkat dan martabat keluargaku di mata umum bahwa meski kami dari latarbelakang seperti itu kami bisa membuktikan. aku hanya ingin perubahan terjadi dimana paradigma ibuku yang bekerja serabutan sebagai pembantu rumah tangga  itu. selain itu aku hanya ingin mimpiku jadi kenyataan dimana aku bisa mempertemukan kedua orang tuaku pada saat pengukuhan gelar dan mendapat predikat SARJANA, dengan segala tekat semangat dan prinsipku yang aku pegang sampi saat ini yaitu ”HEAVEN IS WITHIN , NOT OUTSIDE YOURSELF”.
Perlahan-lahan perjuanganku nampak membuahkan hasil yang membanggakan dimana aku juga berhasil mendapatkan beasiswa yang aku tunggu selama ini dan akhirnya aku berhasil dikukuhkan keberadaanya sebagai Mahasiswa Fakultas ilmu pengetahuan budaya pada program studi Information and Library Science University of Indonesia….
So, memang gunung yang tinggi tak mungkin tiba-tiba mempunyai puncak yang membelah hamparan permadani biru nan jauh dan indah namun pasti ada aktivitas usaha yang membentuknya agar usaha tersebut berhasil dijadikan pengantarnya menuju masa depan dan cita-cita yang tinggi.
Jangan pernah menyerah untuk menjadi bagian dari Keluarga besar UNIVERSITAS INDONESIA. dan bantahkan kepada orang-orang bahwa kamu dapat melakukan perubahan dalam paradigmamu.jadilah warga yang selalu menjadi buah cibiran yang positive di kampung halamanmu. . .
Ukir prestasi ….!!!!dan semoga menjadi keluarga besar kami di UNIVERSITAS INDONESIA………
SELAMAT BERJUANG ….!!!!!!
Img. langkah awal ku menginjak kamous impian ini bersama keluarga mahasiswa jember di jakarta (GAMABETA UI)

8 komentar:

  1. silahkan anda beri opini ya ,,,,
    terimaksih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Library and Information Science broo.....

      Hapus
  2. i like it kawan... salam knal..insyaAllah taun depan daftar ui juga kawan.. taun ini gagal... :)
    terharu bacanya sampai nangis :'(

    BalasHapus
    Balasan
    1. yeah that so great....
      salam kenal juga ..
      semangt ya ..kami menunggu pemuda terbaik banggsa untuk negara ini ...
      alhamdullh smga bisa menjadi inspirasi untuk tidak patah semangat yaaaahhh....

      Hapus
  3. heh kamu.....
    aku kangen nasihat mu tau....!!
    thank's Dhe....
    buat kisah nya...
    smangat mu buat aku SALUT teramat... SALUT....
    doain aku ya....
    aku mau berjuang lgi ni.....
    :'D

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahhaa.. gw juga kengen lo nages di depann gw..
      alhamdullh semoga terus membuat orang lebih terinspirasi lagi yaaa..
      iyatak doain ajeng
      SEMANGAT ya..
      MASUK UI YAAAA...

      Hapus
  4. eaaa haha gue udah baca semuanya yan

    BalasHapus